Beranda Cuaca Terkendala Cuaca, Nelayan di Puloampel Empat Bulan Tak Melaut

Terkendala Cuaca, Nelayan di Puloampel Empat Bulan Tak Melaut

636
Ketua Rukun Nelayan Cinta Bahari Dudi Heryadi menunjukkan barisan kapal nelayan yang ditambat di Puloempel, Kabupaten Serang, karena tak bisa melaut, Kamis 25 Februari 2021.

SERANG, BCO.CO.ID – Fenomena peralihan musim dari musim kemarau ke musim hujan yang terjadi di Indonesia beberapa bulan ke belakang, berimbas langsung terhadap produktivitas nelayan di Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang.

Pada fase ini, banyak nelayan memilih cuti melaut untuk menghindari bahaya akibat cuaca buruk yang terjadi ketika sedang mencari ikan.

Ketua Rukun Nelayan Cinta Bahari Dudi Heryadi mengatakan, ratusan nelayan di bawah binaannya sudah empat bulan terakhir ini tak pergi melaut lantaran cuaca yang tak menentu. Untuk menutupi kebutuhan hidup, kata Dudi, para nelayan banyak menjual peralatan mencari ikan ataupun beralih ke profesi lain guna mendapatkan penghasilan demi memenuhi kebutuhan keluarga.

“Cuaca begini (ekstrem-red) dari Oktober 2020 dan paling parah Januari ini. Kurang lebih empat bulan lah enggak melaut,” kata Dudi, Ketua Rukun Nelayan Cinta Bahari kepada BCO Media, Kamis 25 Februari 2021.

Meskipun cuaca tak menentu, lanjut Dudi, namun masih ada saja nelayan yang nekad melaut meskipun jaraknya tak jauh dari pangkalan. Ia juga mengatakan, kondisi gelombang di perairan Puloampel mencapai 3 meter jika kondisi cuaca ekstrem menerpa wilayah tersebut.

“Situasional sih enggak seperti dulu dan enggak berani jauh-jauh. Paling perairan Suralaya saja, cari yang aman. Biasanya tengah malam berangkat kalau angin enggak terlalu kencang,” ujarnya.

Sementara, Alvin salah seorang nelayan mengatakan, sebelum cuaca buruk terjadi. Biasanya Ia bisa menangkap ikan hingga 30 kilogram per harinya. Tetapi saat, ia hanya mendapat 5-10 kilogram ikan, itu pun hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau sekarang enggak bisa terlalu jauh, paling dapat 5-10 kilogram, karena khawatir juga kalau kondisi begini,” ungkap Alvin.

Berdasarkan prediksi BMKG, musim hujan yang terjadi di Indonesia hingga awal Maret 2021. Sementara untuk fenomena La Nina, diperdiksi meluruh pada April mendatang. Oleh sebab itu, BMKG tak henti-hentinya mengimbau warga agar tetap waspada pada saat musim penghujan ini. []