Beranda Humaniora Selama Pandemi, Penduduk Miskin di Banten Meningkat

Selama Pandemi, Penduduk Miskin di Banten Meningkat

734

SERANG, BCO.CO.ID – Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Banten, selama pandemi Covid-19 kondisi penduduk miskin bertambah 1,34 persen atau meningkat 81,65 ribu orang dari 775,99 ribu orang pada Maret 2020. Peningkatan itu terjadi hanya dalam waktu enam bulan saja, sejak Maret hingga September 2020.

“Hal ini sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk miskin sebanyak 81,65 ribu orang dari 775,99 ribu orang pada Maret 2020, menjadi 857,64 ribu orang pada September 2020,” ujar Adhi Wiriana Kepala BPS Banten, melalui keterangan resminya di Serang, Senin 15 Februari 2021.

Adhi menjelaskan, berdasarkan data BPS persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada bulan Maret 2020 sebanyak 472,84 ribu orang (5,03 persen), namun di September 2020 meningkat sebanyak 540,15 ribu orang (5,85 persen).

Angka tersebut meningkat secara keseluruhan sebanyak 67,31 ribu orang. Begitu pula untuk persentase penduduk miskin di daerah pedesaan mengalami peningkatan yaitu dari 303,14 ribu orang (8,18 persen) pada Maret 2020 menjadi 317,49 ribu orang (8,57 persen) pada September 2020, atau sebanyak 14,35 ribu orang.

“Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan dari sebesar 5,03 persen naik menjadi 5,85 persen. Sementara persentase penduduk miskin di daerah perdesaan sebesar 8,18 persen naik menjadi 8,57 persen,” jelasnya.

Peningkatan jumlah penduduk di daerah perkotaan tersebut disebabkan karena Banten relatif didominasi wilayah industri yang cenderung banyak di perkotaan seperti Tangerang Raya, Kabupaten Serang, dan Cilegon.

“Karena di Banten ini wilayah perkotaan relatif banyak kawasan perindustrian seperti Tangerang Raya, kemudian Cilegon dan Serang dan sebagianya. Jadi lebih terdampak pandemi dibandingkan pedesaan,” ungkapnya.

Ia juga menyebut, pada komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi non makanan yaitu sebesar 71,89 persen.

Dari jenis komoditi makanan tersebut yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan di perkotaan dan di perdesaan adalah beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, susu bubuk, serta kopi bubuk dan kopi instan.

Sementara komoditi non makanan penyumbang terbesar di perkotaan dan perdesaan yaitu biaya perumahan, bahan bakar, listrik, pendidikan dan perlengkapan mandi.

“Ternyata untuk garis kemiskinan daerah perkotaan itu membelikanya untuk rokok keretek dan ini harus kita waspadai,” tandasnya. []