Beranda Cuaca Kepala Pos Pemantau Ungkap Penyebab Erupsi Gunung Anak Krakatau

Kepala Pos Pemantau Ungkap Penyebab Erupsi Gunung Anak Krakatau

2194

SERANG.BCO.CO.ID – Dalam dua hari terakhir, Gunung Anak Krakatau (GAK) mengalami peningkatan aktivitas dengan ditandai terjadinya erupsi sebanyak 16 kali letusan. Pada Sabtu 05 Februari 2022, Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami 2 kali erupsi di waktu yang berbeda yakni, pada pukul 05.32 WIB dan pukul 13.03 WIB.

Kepala Pos Pemantau GAK Deni Mardiono menjelaskan, penyebab erupsi Gunung Anak Krakatau sebelumnya karena terpantau terjadinya aktifitas kegempaan vulkanik maupun kegempaan low frequency serta kegempaan hembusan. “Pada tanggal 02 Februari 2022 terjadi gempa tektonik lokal yang memicu peningkatan seismik Gunung Anak Krakatau, sehingga bisa menyebabkan Gunung Anak Krakatau meletus sampai saat ini,” jelas Deni Mardiono, kepada BCO Media di Pos Pemantau GAK, Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang.

Dikatakan, erupsi sendiri bagi gunung api merupakan hal yang wajar. Justru, lanjut Deni, aktifitas gunung yang biasa saja patut diwaspadai ketimbang gunung api yang aktif. Meskpiun aktifitasnya meningkat, Deni menuturkan, sampai saat ini belum terjadi dentuman dari erupsi gunung api yang berada di tengah laut tersebut.

“Gunung itu meletus justru malah bagus daripada hanya diam saja tahu-tahu meletus hebat. Istilahnya (Erupsi GAK Saat Ini-Red) energinya bisa berkurang gitu,” katanya.

Sementara, Sub Koordinator Gunung Api Wilayah Barat Nia Heryani mengungkapkan, erupsi GAK sendiri terpantau mengeluarkan material gas dan material lain yang terbawa ke permukaan. Jika malam hari, GAK juga mengeluarkan erupsi strombolian atau batuan lava pijar yang terlontarkan ke luar kawah gunung. Menurutnya, hal tersebut merupakan karakteristik GAK dan dinilai aman. “Aman misalnya kalau dari sisi Gunung Anak Krakatau memang seperti ini tipe erupsinya, bahwa dia itu menghasilkan erupsi kolom abu. Kemudian letusan strombolian tadi,” ujar Nia.

Selain itu, pihaknya juga memiliki peta rawan bencana GAK yang saat ini statusnya berada pada waspada level II atau tidak boleh didekati masyarakat radius 2 kilometer dari kawah gunung. “Kalau kita mematuhi rekomendasi tentu saja aman, tidak ada dampak dari material erupsi,” ungkapnya.

Masih kata Nia, saat ini pihaknya belum menerima laporan dari masyarakat terkait abu vulkanik yang jatuh di wilayah pemukiman penduduk. Pasalanya, material yang dilontarkan dari kawah GAK sendiri bersifat halus dan hanya jatuh di wilayah kepulauan itu sendiri.

“Sampai saat ini belum ada laporan dari penduduk bahwa abu sampai ke pemukiman, jadi untuk sampai saat ini sebaran abunya hanya sebatas di sekitar kawah dan kepulauan gunung api,” pungkasnya.

Sekedar informasi, jarak dari Gunung Anak Krakatau ke wilayah Desa Pasauran sendiri adalah 40 kilometer jauhnya. []

RADIO BCO